Sunday, October 30, 2011
3 TAHUN DALAM KARYA YANG TAK BISA DI BILANG BIASA.
Tak terasa tiga tahun sudah usia organisasi Ikatan Muli Mekhanai Kota Bandar Lampung (IMKOBAL) hadir dan mewarnai pergerakan karya nyata para pemuda di Bandar Lampung. Sejak dinyatakan perjuangan pembentukan di tanggal 28 Oktober 2008 dan mengalami beragam perombakan hingga pencapaian legitimasi syah melalui Surat Keputusan (SK) Bapak Walikota Bandar Lampung di sertai dengan adanya pengesahan AD/ART dan bentukan berbadan hukum yang kuat sebagai bagian dari organisasi Kepemudaan di Lingkungan Pemerintah Daerah Kota Bandar Lampung di bawah naungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandar Lampung.
Pengurus perdana di lantik pada tanggal 28 Oktober 2009. Kemudian IMKOBAL berhasil memasukkan anggaran dalam pos bantuan sosial pada APBD Kota Bandar Lampung dan membuat beragam rintisan program yang menggebrak hingga kemudian dilantik lagi kepengurusan kedua, pada Selasa tanggal 18 Januari 2010 Bertempat di Gedung PKK, Enggal Bandar Lampung resmi kepengurusan kedua dengan masa bakti 2010 – 2015.
Dalam berjalanannya. IMKOBAL telah banyak melakukan kiprah yang tidak bisa di bilang biasa. Sebagai salah satu Organisasi Kepemudaan baru di Kota Bandar Lampung, IMKOBAL sangat berperan pada lini dasar – yakni memberi perubahan pada system pemilihan Muli Mekhanai Kota Bandar Lampung sebagai awal dari pembentukan re-generasi di dalam Organisasi kelak. Bisa di sebut, bahwa – hanya IMKOBAL yang di beri kepercayaan penuh oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandar Lampung untuk mengambil alih penetapan system dan standar mutu serta penilaian para peserta hingga pemenang pada Pemilihan Muli Mekhanai Kota Bandar Lampung terhitung sejak tahun 2009. IMKOBAL mengambil peran cukup signifikan dengan menggelar system Audisi sebagai salah satu penjelasan untuk mencari calon peserta yang lebih berkualitas ketimbang hanya menunggu pendaftar datang. Dan system ini kemudian menjadi hits dan pembicaraan di kalangan luas. Tak banyak yang menyangsikan, tapi tak sedikit pula yang mendukung system audisi ini guna mencari sosok sosok yang lebih berkualitas. Tak hanya itu, IMKOBAL juga memiliki andil penuh dalam menetapkan standar penilian, standar pemenang sampai pada program pasca pemenang. Hal ini yang bisa di bilang tidak di lakukan oleh Organisasi Muli Mekhanai lain di Provinsi ini. Dan wajar jika IMKOBAL memang mendominasi secara keseluruhan dalam system Audisi hingga Pemilihan Muli Mekhanai Kota Bandar Lampung, mulai dari panitia lapangan hingga pada creator dalam tiap rangkaian kegiatan. Karena IMKOBAL hadir dengan tanggung jawab untuk melakukan re-generasi bukan hanya sebagai penonton dan kemudian tumpahan kekesalan para penonton masyarakat awam semata.
Selanjutnya IMKOBAL juga memiliki program kerja yang jelas. Dua program besar, yakni ; Program kerja Kedinasan atau kegiatan kegiatan yang telah di atur dalam hal pemerintahan Kota Bandar Lampung, dan kegiatan kelembagaan /Organisasi IMKOBAL itu sendiri. Dalam badan Organisasi , IMKOBAL memiliki empat bidang utama, yakni ; Bidang Sosial Kemasyarakatan, Bidang Seni, Budaya dan Pariwisata, Bidang Peningkatan Mutu dan Pendayagunaan Sumber Daya Manusia dan Bidang Administrasi Kelembagaan.
Setiap Bidang tersebut memiliki kepengurusan mulai dari Ketua Bidang hingga anggota dan juga program kerja yang jelas dan bertahap. Bidang Sosial Kemasyarakatan misalnya – IMKOBAL berhasil memajukan slogan ‘IMKOBAL BERAMAL’ sebuah kegiatan yang di tujukan bagi masyarakat menegah kebawah, kaum dhuafa, fakir miskin, Yatim Piatu, Yayasan Sosial dan juga para Korban Bencana. Dalam perjalanannya IMKOBAL BERAMAL tercatat rutin melakukan kegiatan diantaranya Malam Solidaritas ; Malam Penggalangan Dana untuk Korban Bencana Alam di Mentawai dan Merapi. Lalu Pelaksanaan Bakti Sosial, Berbuka Puasa Bersama, Santunan pada Kaum Dhuafa serta Sahur on The Spot yang di laksanakan rutin sejak tahun 2009 di setiap bulan Ramadhan. IMKOBAL BERAMAL pula menyentuh kalangan remaja yang memiliki keterbelakangan mental – dengan mengunjungi SLB Dharma Sari dan aktif menjadi pionir sukarelawan untuk kegiatan khusus. Muli Mekhanai Kota Bandar Lampung memiliki peran aktif dalam kegiatan sosial. Karena Jiwa Sosial bukan hanya milik Dinas Sosial tapi milik semua lapisan masyarakat yang merasa menjadi bagian dari mahluk sosial. Selain itu, Bidang Sosial Kemasyarakatan juga aktif pada hari hari besar nasional dengan ikut terlibat pada aksi damai dan aksi sosial di Bundaran Tugu Adipura di Bandar Lampung, contoh ; aksi Damai pada Peringatan Hari AIDS Nasional, Hari Anti Narkotika Sedunia, Car Free Day dan kegiatan Sosial lainnya.
Bidang Seni Budaya dan Pariwisata, dalam bidang ini IMKOBAL mencatatkan diri sebagai organisasi Kepemudaan yang terus menerus mengembangkan Seni dan Budaya Lokal – yakni Seni dan Budaya Lampung, dengan memberikan pelatihan musik cetik dan gitar klasik Lampung serta kerap mengadakan pertemuan guna mempelajari lebih banyak lagi ragam dan jenis budaya Lampung serta lagu lagu Lampung pada masa lampau. Bidang Seni, Budaya dan Pariwisata juga menjadi acuan para Muli Mekhanai Kota Bandar Lampung untuk tampil pada beragam program di level Pemda Kota Bandar Lampung maupun di ajang Nasional yang merupakan bagian dari kegiatan Promosi yang bersinergi dengan Bidang Promosi pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandar Lampung. Bidang ini kemudian dengan sendirinya mencetak sosok sosok yang bisa di andalkan dalam dunia seni hiburan dan entertaint, sebut saja munculnya Nama Isura Febrihartati, Dedi Guswinto,Desti Nurdianti, Ledia Nurmalini, Efelina Dewi Novita yang kerap di daulat menjadi Pembawa Acara untuk skala organisasi ataupun acara akbar di lingkungan Pemda Kota Bandar Lampung. Lalu ada pula Maulana Ilyas yang kemudian berperan pada pengisi petugas Pemetik Gitar Klasik , Reza Guntara, Rizki Akbar Kurniadi dan Febrian Ahmad di bidang olah Vocal – Penyanyi Lagu Lampung, Serta individu yang kerap menjadi Peraga Busana di atas Cat Walk atau pertunjukkan busana khas Lampung baik di tingkat lokal maupun Nasional dan Sosok Sosok lain yang secara berkesinambungan terlihat bakat nya dapat di asah dan kemudian menjadikan mereka sebagai pribadi yang beda dengan remaja sebaya mereka lainnya. Selain itu, IMKOBAL juga kerap terlibat penuh pada penyusunan program event maupun rundown kegiatan yang bersifat seni dan hiburan di Rumah Dinas Walikota Bandar Lampung. Sebagai contoh, IMKOBAL di percaya terlibat penuh dan berada di semua lini bidang acara pada gelaran makan malam ; Gala Dinner Tourism Indonesia Mart and Expo (TIME) 2011, yang di hadiri oleh para Seller dan Buyers serta para Duta Besar dari lebih 26 Negera di Dunia, yang sebenarnya program tersebut adalah Program Provinsi, tapi di laksanakan di Rumah Dinas Walikota Bandar Lampung.
Bidang Peningkatan Mutu dan Pendayagunaan Sumber Daya Manusia. Bidang ini adalah bidang yang membidani terbentuknya karakter dan sosok unggul dari pribadi pribadi Muli Mekhanai Kota Bandar Lampung. Sosok yang kerap menjadi PIC dalam setiap penugasan dan event adalah pelatihan secara langsung bagaimana seseorang mampu mengatasi diri dan tim serta mengendalikan diri dan tim dalam beragam kondisi event. Bidang ini pula yang memberi warna penuh pada proses Audisi dan rangkaian Pemilihan Muli Mekhanai Kota Bandar Lampung dengan menetapkan Sistem dan juga standard penilaian maupun standar Pemenang dengan menitik beratkan pada penilaian Personality, Mentalitas dan Talent – yakni tiga hal yang sangat spesifik dan tidak tertular latah untuk menggunakan standard International 3B –Brain, Beauty and Behavior yang jika di kaji masihlah sangat bias pemahaman dalam setiap individu perorangan. Di sisi lain Bidang Peningkatan Mutu dan Pendayagunaan Sumber Daya Manusia secara terus menerus memberikan pelatihan pada pribadi pribadi yang di nilai mampu pada bidang pelatihan tersebut, sebagai contoh dengan di kirimnya Achmad Nizar Yulian dan Agung Tri Kurnia Pasha pada program Peningkatan Mutu Promosi dan Jasa Pariwisata di tiga kota ; Lombok, Bali dan Yogya pada Agustus 2010. Lalu ada pula Program Konferensi Tingkat Dunia – World Conference – World Batik Summit 2011 yang di ikuti oleh Dommy Suharda, Farahdiba Citra Olivia, M. Reza Guntara dan Siska Maharani yang di gelar di Jakarta Convention Centre (JCC) Jakarta pada Agustus 2011 lalu. Beragam penugasan untuk mengikuti kegiatan di luar kota tersebut bertujuan untuk memperoleh informasi secara menyeluruh dan memberikan pembekalan secara spesifik pada setiap pribadi unggulan di tubuh Ikatan Muli Mekhanai Kota Bandar Lampung. Selain itu, Bidang Peningkatan Mutu dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia juga membentuk Lampung Youth Community (LYC) yang merupakan rintisan bagi para remaja muda di Lampung yang peduli dengan Seni dan Budaya Lokal, lalu IMKOBAL pula menggelar IMKOBAL GOES TO SCHOOL (IGOS) 2011 yang berhasil tuntas di laksanakan di 5 (lima) Sekolah Menengah di Bandar Lampung dengan program Edukasi Seni, Budaya dan Pariwisata Lampung serta pembekalan Soft Skill di kalangan Remaja Sekolah Menengah. Dan kegiatan IGOS ini akan terus di laksanakan di tahun tahun mendatang mengingat banyaknya respon positife yang masuk ke organisasi.
Bidang keempat dalah Bidang Administrasi dan Kelembagaan, Bidang ini adalah Bidang yang sangat dasar dari sebuah Organisasi. Urusan Administrasi adalah upaya IMKOBAL untuk terus menerus menjadi bagian dari pendanaan APBD melalui program Pos Bantuan Sosial Organisasi Kepemudaan, dengan secara rutin pertahun mengajukan dana belanja dan kegiatan rutin yang berguna untuk mendongkrak mutu organisasi. Adminsitrasi IMKOBAL pula mengatur stategi Marketing dan Blow Up Program IMKOBAL ke masyarakat Luas dengan menciptakan Jarkom ataupun Logo event agar familiar di telinga Masyarakat Bandar Lampung dan Provinsi Lampung pada umumnya. Sementara Kelembagaan adalah sisi lain dari IMKOBAL yang berupaya untuk mensejajarkan diri dengan Organisasi Kepemudaan lain baik dalam skup Lokal maupun Nasional. Sebagai catatan Prestasi IMKOBAL berhasil mencatatkan diri pada Organisasi ADWINDO – Asosiasi Duta Wisata Indonesia sebagai salah satu peserta dalam organisasi skala Nasional tersebut, mewakili Provinsi Lampung secara keseluruhan pada event Rakornas ADWINDO ke 2 pada Maret 2010 lalu. Dan kemudian IMKOBAL di daulat menjadi Tuan Rumah Rapat Koordinasi Nasional ke III (tiga) pada akhir Februari 2012 kelak.
Selain itu, Bidang Administrasi dan Kelembagaan juga berkerjasama dengan baik pada para stakeholder yang sangat memberi dampak positive bagi perkembangan berorganisasi, sebut saja IMKOBAL memiliki hubungan baik dengan BPD HIPMI LAMPUNG – Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Provinsi Lampung, dengan kerap di libatkannya IMKOBAL dalam setiap acara yang di gelar oleh HIPMI Provinsi Lampung. Lalu IMKOBAL pula berhasil menjalin kerjasama baik dengan Tribun Lampung dengan kerap dijadikanya Muli Kota Bandar Lampung sebagai Cover edisi Life Style setiap minggunya. Dan Kerjasama baik ini kerap membawa pemuatan berita positive bagi setiap event yang IMKOBAL gelar atau beberapa kali IMKOBAL dan Tribun Lampung terlibat dalam sebuah kerjasama kegiatan positive lainnya seperti ; Pelaksanaan Senam Sehat setiap minggu dan juga kegiatan lainnya.
Bidang Administrasi dan Kelembagaan pula kerap melakukan kegiatan kunjungan ke Organisasi Duta Wisata serupa dengan IMKOBAL di luar Daerah, sebut saja IMKOBAL pernah dua kali hadir di Surabaya dalam rangka Pemilihan Cak Ning Surabaya pada tahun 2010 dan 2011, Lalu IMKOBAL pula hadir di Pemilihan Putra Putri Solo pada tahun 2010. Selain kegiatan bersifat kelembagaan dengan membina hubungan baik pada Pihak Luar yang Kompeten, IMKOBAL juga kerap menyelenggarakan pertemuan pertemuan rutin yang tidak terlalu formal sebagai upaya untuk penguatan tim internal serta aktivitas Outbound atau Kunjungan Wisata para Muli Mekhanai Kota Bandar Lampung ke beberapa tempat menarik, guna memberikan penyegaran organisasi dan mengokohkan kembali kekompakan antar personal dalam sebuah keluarga yang bernama IMKOBAL.
Jika diumpamakan balita, IMKOBAL tak hanya belajar berjalan dalam proses berkembangnya, tetapi juga ada proses mencipta, menggebrak batasan – batasan yang selama ini terjadi dalam cara pandang masyarakat awam tentang Muli Mekhanai yang setelah acara berakhir maka berakhir pula lah gaungnya. Ajang yang hanya mencari selempang , gelar dan piala setelah itu tiada. Ajang yang juga mampu di tipu daya dan di bodohi dengan melakukan system sogokan sejumlah dana ke penyelenggara atau oknum yang berbuat curang di belakang sebuah pertunjukkan yang di kemas mewah. IMKOBAL juga berperan menjadi pendamping pada pemilihan keputusan para personal. Tak jarang setiap individu yang ingin memutuskan untuk pilihan bakat atau study mereka menjadikan IMKOBAL sebagai keluarga kedua. IMKOBAL juga terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung. IMKOBAL tidak pernah meng-khusus kan diri hanya buat mereka yang ikut di ajang Pemilihan Muli Mekhanai kota Bandar Lampung saja. IMKOBAL juga terbuka buat pribadi pribadi kreatif yang ingin berkembang dan maju bersama dalam setiap event yang di buat. Tercatat ada Mba Yuli – Mahasiswa asal Teknokrat yang kerap terlibat di setiap acara Muli Mekhanai Kota Bandar Lampung, Lalu ada Saddam – mahasiswa Darmajaya yang sekarang mengambil peran penuh di bidang Dokumentasi dan Photography, Lalu ada Riwih – Mahasiswa Teknokrat yang juga kerap terlibat membantu lancarnya kegiatan bermusik para Muli Mekhanai Kota Bandar Lampung. Dan tanpa disadari pula bahwa keberadaan IMKOBAL yang meski baru 3 tahun, telah memberi dampak positive dan inspirasi bagi banyak pihak, sebut saja hadirnya IMMKAPRI – Ikatan Muli Mekhanai Kabupaten Pringsewu – yang pemasangan Logonya mengambil langsung gambar Logo IMKOBAL (meski tanpa izin sebelumnya). IMKOBAL juga terbuka pada rekan rekan kabupaten lain di Provinsi Lampung yang ingin belajar bersama untuk memajukan daerah masing masing. Tapi lain hal jika Muli Mekhanai memang tidak berasal dari daerah setempat. Kabupaten hanya nama, tapi personalnya orang Luar Kota, Itu beda pembahasan tentunya. Lalu tak sedikit pula tanggapan positive ke IMKOBAL atas segala event yang di gelar. Lalu ada pula Keterikatan penuh pihak pihak yang luar biasa baiknya pada IMKOBAL – Bang Aan Ibrahim yang senantiasa memberi saran aktif dan membangun, Raswan Gallery yang kerap menjadikan Muli Mekhanai Kota Bandar Lampung bagian dari Model Busana Gallery nya. Lalu ada Rusdi – Lamban Tapis yang selalu baik hati dalam setiap kegiatan sama baiknya dengan Yuke Elvandari – melalui Maxima Wedding Gallery – nya yang selalu siap sedia di repoti dan berkenan memakaikan busana kebaya mewahnya pada Muli Mekhanai Kota Bandar Lampung, terima kasih pula pada Tante Rahayu – melalui Rahayu Gallery yang kerap di repoti oleh keinginan IMKOBAL, terima kasih pula pada Pak Bekti – melalui MAXIMA MOTIVA yang telah 3 tahun berturut turut menjadi partner penting dalam penentuan Pemenang di tinjau secara Psikologi dan Kejiwaan personal masing masing Finalis. Juga beragam pihak baik seperti ; Wira Garden, JCI, Bakso Bakar Kanara, Tabek Indah, Lembah Hijau, Rumah Putih CafĂ© and Resto, OZ Radio Lampung, Lampung Televisi, Bukit Mas, Terima Kasih ini tentu akan panjang jika di sertakan dalam sebuah bentuk kehormatan pada Bapak Walikota Bandar Lampung yang senantiasa ‘mencambuk’ semangat dengan kalimat ‘ajaib’ yang selalu menyemangati, Terima Kasih pula pada Sosok Lembut nan Tegas – Bunda Eva – Istri Bapak Walikota Bandar Lampung yang juga Pembina IMKOBAL yang terus menerus memberikan motivasi dan semagat ‘memudakan fikiran dan tindakan’ para pengurus IMKOBAL. Terima Kasih khusus juga di haturkan kepada para Sosok belakang layar yang senantiasa memperhatikan dan memberi kritikan pedas dan tajam buat IMKOBAL; Bpk. Anshori Djausal, mba Lia, Bertha Beatrix, Mas Irfan, Hj. Hernaini, Bpk. Idrus Djaenar Muda, Bpk Julian Manaf, Para Senior Muli Mekhanai Kota Bandar Lampung dan Provinsi Lampung. Tak tertinggal haturan bangga pada TIM 5 (Alan, Isura, Imanuddin, Adhi, Fyan)
3 tahun adalah awal untuk dapat melangkah lebih kuat. Seperti kaki kaki yang terlatih kokoh oleh setiap gelaran event yang selama ini mengasah kekuatan tersebut. Dan sang Kaki usia 3 tahun pula kerap jatuh, kerap lelah, dan bahkan diam gerak sesaat jika tersentak oleh banyak hal negative menyerang. Dan untuk itu, semoga Sosok Sosok yang muncul dari setiap event menjadi sebuah pembentukan karakter kuat yang kemudian dapat mengkokohkan kaki organisasi berusia 3 tahun ini.
Terima Kasih atas Kekuatan dalam Kebersamaan.
Dan kedepan kita katakan pada diri dan Organisasi ini, bahwa IMKOBAL – sebagai Icon Organisasi Kepemudaan yang Baru berusia 3 tahun di Bandar Lampung akan terus berkarya nyata demi sebuah pencapaian yang di harapkan kelak dapat menjadi contoh bagi generasi selanjutnya.
Semangat Maju Bersama.
The Young Leader of Dynamic and Creative Movement in Town.
Salam IMKOBAL.
Sunday, September 18, 2011
KREATIVITAS SALAH TAFSIR.
… Industri Kreatif harus di galakkan dalam dunia Seni, Budaya dan Pariwisata di Indonesia…
Begitulah petikan singkat yang saya dapat dari ucapan seorang DR. Sapta Nirwandar – seorang Dirjen Pemasaran Pariwisata – Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia pada acara Ramah Tamah dan Gelar Budaya Lampung Sungkai Bungamayang beberapa waktu lalu.
Sesaat saya – yang saat acara tersebut bertindak sebagai MC menuliskan point besar dari banyaknya penjelasan ilmiah yang DR Sapta Nirwandar – yang kerap saya sebut Oom setiap bertemu beliau. Pada acara Adat yang di helat di Bandar Lampung pada Sabtu, 17 September lalu adalah bukan pertama kali saya bertemu dengan Oom Sapta. Pada beberapa kesempatan lawatan tugas saya ke Luar Negeri selalu bertemu dengan Oom Sapta. Karena memang Oom Sapta di tugaskan sebagai Dirjen Pemasaran Seni Budaya dan Pariwisata Indonesia jadi setiap ada event tingkat Nasional maupun Internasionl pasti akan bertemu beliau. Sama seperti ketika saya juga sempat bertemu dan bicara banyak ketika Festival Tong Tong di Denhaag dan Pertunjukkan Seni Budaya di Paris, Swiss dan Belgium pada pertengahan tahun 2009 lalu. Begitu pula ketika saya kembali bertemu beliau di ajang Korea World Travel Fair tahun 2008.
Kembali ke inti pembicaraan DR Sapta Nirwandar yang menarik buat saya bahas. Bahwa benar adanya. Pergeseran Teknologi di era modern, menuntut manusia sebagai pelaku usaha untuk lebih kreatif dalam menjalankan usaha yang di geluti. Sekarang zaman Facebook, email dan alat komunkasi yang tak lagi lazim seperti era 80 atau 90-an tentunya. Kini , masing masing dari individu telah memaknai hubungan silahturahmi hanya dengan berkirim kabar via email, chat, SMS, MMS atau BBm-an. Bahkan ucapan Hari Raya dan Undangan Pernikahan pun kerap di sampaikan hanya dengan SMS. Bicara praktis, sudah barang tentu, tapi segi hormat akan sebuah hubungan baik tentulah lain hal yang perlu di perhatikan kemudian.
Lalu saya kembali memaknai ucapan DR Sapta tersebut , sebagai upaya untuk memacu diri agar lebih kreatif lagi dari waktu ke waktu. Dan kreatifitas itu sebenarnya mahal harga nya. Sama hal nya dengan nilai seni yang memiliki nilai prespektif yang beda di setiap sudut pandang individu. Tapi permasalahan yang terjadi tak semua kegiatan kreatif yang kita lakukan bisa di apresiasi sebagai perbuatan kreatif. Contoh – apa yang pernah saya dan team lakukan dalam organisasi yang kami bina, rintis dan pertahankan bersama sama dalam sebuah perkumpulan yang bukan hanya sekedar perkumpulan. Bagi kami – Berkegiatan itu adalah ajang mengasah diri untuk jadi pribadi yang lebih baik lagi dan beda dengan remaja lainnya. Tapi bagi sebagian orang yang bisa jadi tak suka dengan kreatifitas yang kami lakukan menganggap bahwa kami memiliki upaya untuk mencari perhatian, upaya untuk mendongkrak popularitas , bahkan ada yang beranggapan bahwa saya dan teman teman menciptakan beragam kegiatan positive tersebut untuk mendongkrak agar saya cepat naik pangkat dan memiliki kedudukan yang lebih tinggi. Dan unik nya ketika kegiatan tersebut sukses mereka meng-klaim bahwa mereka punya andil. Tapi jika kegiatan kreatif kami gagal karena terkendala teknis , maka mereka yang berucap itu pun satu persatu hilang dan berkata tak tau menahu dengan apa yang kami lakukan. Sekilas bagai tak ada artinya dari apa yang terjadi. Tapi bagi saya dan team, peremehan kreatifitas – bisa kami bilang begitu, - adalah upaya pihak pihak yang tak suka dengan apa yang kami lakukan dan kemudian berhasil – di lain pihak - mereka yang berkata dan tidak suka tersebut hanya bisa sebatas berkata saja, mereka pun tak biaa berbuat apa apa dan bahkan tak pernah menghasilkan apa apa sebagai pembuktian dari cibiran mereka bahwa mereka bisa. Pernah pula – di lain kisah - saya dan team men-direct sebuah pertunjukan bakat teman teman dengan system Drama Musical, lantas banyak komentar dari beberapa pihak yang menganggap apa yang kami buat adalah hal biasa dan tak begitu baik. Lantas di sisi lain mereka tak bisa buat seperti apa yang kami buat. Jika mereka bisa mengatakan kami tak lebih baik, mengapa mereka tak buat sesuatu yang jauh lebih baik sebagai pembuktian dari celaan mereka tersebut ?. Belum lagi hal – hal sanggahan yang seolah olah tak pernah ada habisnya. Tapi bagi saya, hinaan dari apa yang terjadi adalah pembelajaran untuk menerapkan control sabar yang sebenarnya. Bahwa tak perlu saya berkomentar banyak tentang anggapan miring banyak pihak, tak perlu juga saya berkoar koar bahwa saya dan tim bisa, Saya hanya butuh waktu untuk membuktikan bahwa yang mereka bicarakan adalah hal yang sia sia karena saya dan tim bisa membuktikan dengan karya dan akan terus berkarya selama hayat di kandung badan.
Begitulah petikan singkat yang saya dapat dari ucapan seorang DR. Sapta Nirwandar – seorang Dirjen Pemasaran Pariwisata – Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia pada acara Ramah Tamah dan Gelar Budaya Lampung Sungkai Bungamayang beberapa waktu lalu.
Sesaat saya – yang saat acara tersebut bertindak sebagai MC menuliskan point besar dari banyaknya penjelasan ilmiah yang DR Sapta Nirwandar – yang kerap saya sebut Oom setiap bertemu beliau. Pada acara Adat yang di helat di Bandar Lampung pada Sabtu, 17 September lalu adalah bukan pertama kali saya bertemu dengan Oom Sapta. Pada beberapa kesempatan lawatan tugas saya ke Luar Negeri selalu bertemu dengan Oom Sapta. Karena memang Oom Sapta di tugaskan sebagai Dirjen Pemasaran Seni Budaya dan Pariwisata Indonesia jadi setiap ada event tingkat Nasional maupun Internasionl pasti akan bertemu beliau. Sama seperti ketika saya juga sempat bertemu dan bicara banyak ketika Festival Tong Tong di Denhaag dan Pertunjukkan Seni Budaya di Paris, Swiss dan Belgium pada pertengahan tahun 2009 lalu. Begitu pula ketika saya kembali bertemu beliau di ajang Korea World Travel Fair tahun 2008.
Kembali ke inti pembicaraan DR Sapta Nirwandar yang menarik buat saya bahas. Bahwa benar adanya. Pergeseran Teknologi di era modern, menuntut manusia sebagai pelaku usaha untuk lebih kreatif dalam menjalankan usaha yang di geluti. Sekarang zaman Facebook, email dan alat komunkasi yang tak lagi lazim seperti era 80 atau 90-an tentunya. Kini , masing masing dari individu telah memaknai hubungan silahturahmi hanya dengan berkirim kabar via email, chat, SMS, MMS atau BBm-an. Bahkan ucapan Hari Raya dan Undangan Pernikahan pun kerap di sampaikan hanya dengan SMS. Bicara praktis, sudah barang tentu, tapi segi hormat akan sebuah hubungan baik tentulah lain hal yang perlu di perhatikan kemudian.
Lalu saya kembali memaknai ucapan DR Sapta tersebut , sebagai upaya untuk memacu diri agar lebih kreatif lagi dari waktu ke waktu. Dan kreatifitas itu sebenarnya mahal harga nya. Sama hal nya dengan nilai seni yang memiliki nilai prespektif yang beda di setiap sudut pandang individu. Tapi permasalahan yang terjadi tak semua kegiatan kreatif yang kita lakukan bisa di apresiasi sebagai perbuatan kreatif. Contoh – apa yang pernah saya dan team lakukan dalam organisasi yang kami bina, rintis dan pertahankan bersama sama dalam sebuah perkumpulan yang bukan hanya sekedar perkumpulan. Bagi kami – Berkegiatan itu adalah ajang mengasah diri untuk jadi pribadi yang lebih baik lagi dan beda dengan remaja lainnya. Tapi bagi sebagian orang yang bisa jadi tak suka dengan kreatifitas yang kami lakukan menganggap bahwa kami memiliki upaya untuk mencari perhatian, upaya untuk mendongkrak popularitas , bahkan ada yang beranggapan bahwa saya dan teman teman menciptakan beragam kegiatan positive tersebut untuk mendongkrak agar saya cepat naik pangkat dan memiliki kedudukan yang lebih tinggi. Dan unik nya ketika kegiatan tersebut sukses mereka meng-klaim bahwa mereka punya andil. Tapi jika kegiatan kreatif kami gagal karena terkendala teknis , maka mereka yang berucap itu pun satu persatu hilang dan berkata tak tau menahu dengan apa yang kami lakukan. Sekilas bagai tak ada artinya dari apa yang terjadi. Tapi bagi saya dan team, peremehan kreatifitas – bisa kami bilang begitu, - adalah upaya pihak pihak yang tak suka dengan apa yang kami lakukan dan kemudian berhasil – di lain pihak - mereka yang berkata dan tidak suka tersebut hanya bisa sebatas berkata saja, mereka pun tak biaa berbuat apa apa dan bahkan tak pernah menghasilkan apa apa sebagai pembuktian dari cibiran mereka bahwa mereka bisa. Pernah pula – di lain kisah - saya dan team men-direct sebuah pertunjukan bakat teman teman dengan system Drama Musical, lantas banyak komentar dari beberapa pihak yang menganggap apa yang kami buat adalah hal biasa dan tak begitu baik. Lantas di sisi lain mereka tak bisa buat seperti apa yang kami buat. Jika mereka bisa mengatakan kami tak lebih baik, mengapa mereka tak buat sesuatu yang jauh lebih baik sebagai pembuktian dari celaan mereka tersebut ?. Belum lagi hal – hal sanggahan yang seolah olah tak pernah ada habisnya. Tapi bagi saya, hinaan dari apa yang terjadi adalah pembelajaran untuk menerapkan control sabar yang sebenarnya. Bahwa tak perlu saya berkomentar banyak tentang anggapan miring banyak pihak, tak perlu juga saya berkoar koar bahwa saya dan tim bisa, Saya hanya butuh waktu untuk membuktikan bahwa yang mereka bicarakan adalah hal yang sia sia karena saya dan tim bisa membuktikan dengan karya dan akan terus berkarya selama hayat di kandung badan.
Saturday, July 30, 2011
SABAR KU TAK BERBATAS, BENARKAH ?
….Bersabarlah kau, Dan sesungguhnya Allah SWT akan bersama orang – orang yang Sabar.
Demikian kurang lebih penggalan kalimat yang kerap saya dengar ketika beragam pihak menghimbau untuk bersabar. Sama dengan ingatan saya pada almarhumah Mama yang selalu menganjurkan untuk bersabar dan terus bersabar akan segala apa yang belum tersampaikan dari beragam upaya yang di tunaikan ataupun bersabar terhadap beragam masalah yang hadir dalam tiap langkah kehidupan yang terbentang luas dan tak pernah ada batas pasti.
Seumpama dengan rangkaian kalimat bijak, begitu pula dengan segala yang kini terjadi. Saya masih ingat ketika remaja dulu, Saya – Seorang anak pertama dari enam bersaudara harus menahan diri dari godaan remaja seusia saya untuk membeli celana panjang cutbray yang sedang trend saat itu. Maklum, Saya tahu diri untuk itu. Mama adalah single parent dengan profesi Guru Sekolah Dasar pada sebuah Kelurahan kecil plus penjaja Beragam dagangan dan barang – barang kreditan yang terkadang harus menguras keringat sepulang mengajar hanya untuk menghidupi keenam anaknya. Dan karena dasar logis tersebutlah saya tak pernah berani untuk meminta sesuatu yang lebih yang bersifat konsumtif pada Mama. Apalagi hanya sekedar celana panjang bermodel cutbray. Dan saya pula cukup tahu diri akan posisi sebagai anak tertua. Ada lima saudara saya lainnya yang jauh lebih banyak membutuhkan biaya dari pada sekedar beli celana panjang cutbray baru. Tapi, berkat nilai sabar yang selalu di dengungkan oleh Mama, saya lama kelamaan bisa membeli celana cutbray baru dengan hasil hadiah uang tunai yang saya peroleh sebagai hadiah lomba menyanyi tingkat SMA kala itu. Meski karena ketidaksabaran jugalah yang akhirnya membuat celana cutbray impian saya tersebut robek pada pemakaian pertama dikarenakan pembelian barang palsu alias barang KW.
Begitulah kesabaran yang saya alami dan masih saya ingat sebagai kisah konyol ketika remaja dahulu. Dan makin beranjak dewasa, ada banyak kisah kesabaran yang saya alami dan banyak pula nilai kehidupan yang patut saya syukuri sebagai pembelajaran dari apa yang saya hadapi. Kesabaran untuk menanggapi beragam kritikan pedas, kesabaran untuk tidak terbawa pada pancingan emosi beberapa pihak yang candrung tak begitu sesuai fakta yang sebanarnya. Kesabaran untuk tidak meladeni ocehan dan cercaan aneh beberapa pihak yang memang berprofesi sebagai pengadu domba dan penyulut emosi tanpa pernah tahu masalah yang sebanarnya terjadi bahkan tak pernah ada karya nyata yang pasti selain hanya bisa berdandan dan tampil serasi dalam setiap acara bergengsi dengan sunggaran dan busana perlente karya rumah mode ternama meski semua itu memakai biaya orang tua yang juga masih bersusah payah menyokong penampilan superstar anak nya. Atau Kesabaran tingkat tinggi yang mengharuskan saya untuk terus menerus menahan emosi dari beragam sambaran emosional pihak pihak yang sensi dan sedikit banyak mencari arti dirinya sendiri yang lebih baik dari yang lain. Termasuk meladeni para petinggi petinggi yang merasa perlu di tinggikan meski sebenarnya tak perlu terancam ketinggian posisinya oleh diri yang tak seberapa ini. Plus kesabaran atas tuduhan bahwa Saya – Indra, menerima uang suap untuk sebuah kompetisi yang saya dan rekan rekan perjuangkan agar ‘bersih’ di banding kompetisi sejenis yang terkenal ‘kotor’ tapi berbalut ‘bersih’.
Saya. Indra – begitu Mama memanggil saya sejak kecil, sesuai dengan nama tengah saya. Adalah anak biasa, dari keluarga biasa, juga bukan orang berada. Mama dan Papa pun telah tiada. Tak ada pula keluarga yang berada, apalagi memiliki penyokong yang mampu memberikan benda benda ataupun segalanya pada saya. Tapi saya , Indra – punya kesabaran dan daya juang yang kuat untuk menahan kesabaran tersebut sampai tak lagi ada batas dan bahkan tak pernah berbatas (terkadang). Untuk hal – hal sepele terkadang saya tak pernah terlalu merisaukannya. Tapi tetap semua dalam pemikiran bahwa yang sepele bisa jadi tak sepele ketika kesabaran bukanlah hal yang utama. Entah dari mana saya mendapatkan ini. Entah siapa pula yang selalu menekan rem kesabaran pada kendaraan kehidupan saya, padahal Orang tua juga tak ada. Tapi bisa jadi karena arahan dan ‘hasutan’ baik almarhumah Mama lah yang membuat saya bisa menekan emosi ini jauh lebih dalam daripada harus menampakkannya di permukaan. Meski terkadang ada hal hal yang dapat dengan mudah saya tunjukkan. Misal, bahwa saya – Indra, adalah sosok yang mudah sekali terbawa arus sensi ketika mendengar lirik lagu yang sesuai dengan cerita hidup dan problema hati. Dan saya juga mudah sekali terhanyut oleh hal hal yang terkadang untuk ukuran pria lainnya itu biasa saja. Bahkan Saya , Indra – juga bisa dengan terang terangan menitikkan air mata ketika ada hal – hal yang dirasa memang perlu menitikkan air mata, dan itu sah sah saja sebenarnya. Tak ada yang salah. Karena almarhumah Mama pernah berkata tak ada yang salah dengan pria menangis, Karena menangis itu menunjukkan kepekaan selagi di sampaikan dengan porsi yang wajar. Dan lagi lagi Saya, Indra – juga harus mengatakan bahwa saat ini saya merindukan diri untuk jadi lebih sabar lagi. Sabar dengan cobaan yang makin hari makin kuat. Makin hari makin tak saya pahami akan sampai dimana semua ini bermuara. Dan semakin saya telusuri mengapa semuanya makin tak menjanjikan ujung yang menyenangkan. Harus bermanis meski sebanarnya pahit. Harus berkata ‘ya’ meski sebenarnya hati bilang ‘tidak’. Dan itulah Saya, Indra – yang lagi lagi harus berakrobat dengan beragam ketidaknyamanan yang terjadi dalam jalan hidup saya sendiri. Ada banyak hal yang tak jelas, entah hitam atau putih, dan bahkan banyak pihak yang dengan terang terangan mengumbar warna warna kusam dan cenderung abu abu kebiruan hingga memudarkan warna jingga yang sebenarnya.
Dan sampai di hari ini, Saya – Indra, masih terus berjuang men-Sabar-kan diri. Sabar dari segala hal – hal yang tak wajar. Sabar dari beragam anggapan miring beragam pihak yang kerap salah tafsir akan segala yang tertoreh dalam karya hidup saya.
Do’a kan Saya – Indra masih bisa terus bersabar hingga akhir waktu.
Demikian kurang lebih penggalan kalimat yang kerap saya dengar ketika beragam pihak menghimbau untuk bersabar. Sama dengan ingatan saya pada almarhumah Mama yang selalu menganjurkan untuk bersabar dan terus bersabar akan segala apa yang belum tersampaikan dari beragam upaya yang di tunaikan ataupun bersabar terhadap beragam masalah yang hadir dalam tiap langkah kehidupan yang terbentang luas dan tak pernah ada batas pasti.
Seumpama dengan rangkaian kalimat bijak, begitu pula dengan segala yang kini terjadi. Saya masih ingat ketika remaja dulu, Saya – Seorang anak pertama dari enam bersaudara harus menahan diri dari godaan remaja seusia saya untuk membeli celana panjang cutbray yang sedang trend saat itu. Maklum, Saya tahu diri untuk itu. Mama adalah single parent dengan profesi Guru Sekolah Dasar pada sebuah Kelurahan kecil plus penjaja Beragam dagangan dan barang – barang kreditan yang terkadang harus menguras keringat sepulang mengajar hanya untuk menghidupi keenam anaknya. Dan karena dasar logis tersebutlah saya tak pernah berani untuk meminta sesuatu yang lebih yang bersifat konsumtif pada Mama. Apalagi hanya sekedar celana panjang bermodel cutbray. Dan saya pula cukup tahu diri akan posisi sebagai anak tertua. Ada lima saudara saya lainnya yang jauh lebih banyak membutuhkan biaya dari pada sekedar beli celana panjang cutbray baru. Tapi, berkat nilai sabar yang selalu di dengungkan oleh Mama, saya lama kelamaan bisa membeli celana cutbray baru dengan hasil hadiah uang tunai yang saya peroleh sebagai hadiah lomba menyanyi tingkat SMA kala itu. Meski karena ketidaksabaran jugalah yang akhirnya membuat celana cutbray impian saya tersebut robek pada pemakaian pertama dikarenakan pembelian barang palsu alias barang KW.
Begitulah kesabaran yang saya alami dan masih saya ingat sebagai kisah konyol ketika remaja dahulu. Dan makin beranjak dewasa, ada banyak kisah kesabaran yang saya alami dan banyak pula nilai kehidupan yang patut saya syukuri sebagai pembelajaran dari apa yang saya hadapi. Kesabaran untuk menanggapi beragam kritikan pedas, kesabaran untuk tidak terbawa pada pancingan emosi beberapa pihak yang candrung tak begitu sesuai fakta yang sebanarnya. Kesabaran untuk tidak meladeni ocehan dan cercaan aneh beberapa pihak yang memang berprofesi sebagai pengadu domba dan penyulut emosi tanpa pernah tahu masalah yang sebanarnya terjadi bahkan tak pernah ada karya nyata yang pasti selain hanya bisa berdandan dan tampil serasi dalam setiap acara bergengsi dengan sunggaran dan busana perlente karya rumah mode ternama meski semua itu memakai biaya orang tua yang juga masih bersusah payah menyokong penampilan superstar anak nya. Atau Kesabaran tingkat tinggi yang mengharuskan saya untuk terus menerus menahan emosi dari beragam sambaran emosional pihak pihak yang sensi dan sedikit banyak mencari arti dirinya sendiri yang lebih baik dari yang lain. Termasuk meladeni para petinggi petinggi yang merasa perlu di tinggikan meski sebenarnya tak perlu terancam ketinggian posisinya oleh diri yang tak seberapa ini. Plus kesabaran atas tuduhan bahwa Saya – Indra, menerima uang suap untuk sebuah kompetisi yang saya dan rekan rekan perjuangkan agar ‘bersih’ di banding kompetisi sejenis yang terkenal ‘kotor’ tapi berbalut ‘bersih’.
Saya. Indra – begitu Mama memanggil saya sejak kecil, sesuai dengan nama tengah saya. Adalah anak biasa, dari keluarga biasa, juga bukan orang berada. Mama dan Papa pun telah tiada. Tak ada pula keluarga yang berada, apalagi memiliki penyokong yang mampu memberikan benda benda ataupun segalanya pada saya. Tapi saya , Indra – punya kesabaran dan daya juang yang kuat untuk menahan kesabaran tersebut sampai tak lagi ada batas dan bahkan tak pernah berbatas (terkadang). Untuk hal – hal sepele terkadang saya tak pernah terlalu merisaukannya. Tapi tetap semua dalam pemikiran bahwa yang sepele bisa jadi tak sepele ketika kesabaran bukanlah hal yang utama. Entah dari mana saya mendapatkan ini. Entah siapa pula yang selalu menekan rem kesabaran pada kendaraan kehidupan saya, padahal Orang tua juga tak ada. Tapi bisa jadi karena arahan dan ‘hasutan’ baik almarhumah Mama lah yang membuat saya bisa menekan emosi ini jauh lebih dalam daripada harus menampakkannya di permukaan. Meski terkadang ada hal hal yang dapat dengan mudah saya tunjukkan. Misal, bahwa saya – Indra, adalah sosok yang mudah sekali terbawa arus sensi ketika mendengar lirik lagu yang sesuai dengan cerita hidup dan problema hati. Dan saya juga mudah sekali terhanyut oleh hal hal yang terkadang untuk ukuran pria lainnya itu biasa saja. Bahkan Saya , Indra – juga bisa dengan terang terangan menitikkan air mata ketika ada hal – hal yang dirasa memang perlu menitikkan air mata, dan itu sah sah saja sebenarnya. Tak ada yang salah. Karena almarhumah Mama pernah berkata tak ada yang salah dengan pria menangis, Karena menangis itu menunjukkan kepekaan selagi di sampaikan dengan porsi yang wajar. Dan lagi lagi Saya, Indra – juga harus mengatakan bahwa saat ini saya merindukan diri untuk jadi lebih sabar lagi. Sabar dengan cobaan yang makin hari makin kuat. Makin hari makin tak saya pahami akan sampai dimana semua ini bermuara. Dan semakin saya telusuri mengapa semuanya makin tak menjanjikan ujung yang menyenangkan. Harus bermanis meski sebanarnya pahit. Harus berkata ‘ya’ meski sebenarnya hati bilang ‘tidak’. Dan itulah Saya, Indra – yang lagi lagi harus berakrobat dengan beragam ketidaknyamanan yang terjadi dalam jalan hidup saya sendiri. Ada banyak hal yang tak jelas, entah hitam atau putih, dan bahkan banyak pihak yang dengan terang terangan mengumbar warna warna kusam dan cenderung abu abu kebiruan hingga memudarkan warna jingga yang sebenarnya.
Dan sampai di hari ini, Saya – Indra, masih terus berjuang men-Sabar-kan diri. Sabar dari segala hal – hal yang tak wajar. Sabar dari beragam anggapan miring beragam pihak yang kerap salah tafsir akan segala yang tertoreh dalam karya hidup saya.
Do’a kan Saya – Indra masih bisa terus bersabar hingga akhir waktu.
Subscribe to:
Posts (Atom)