… Industri Kreatif harus di galakkan dalam dunia Seni, Budaya dan Pariwisata di Indonesia…
Begitulah petikan singkat yang saya dapat dari ucapan seorang DR. Sapta Nirwandar – seorang Dirjen Pemasaran Pariwisata – Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia pada acara Ramah Tamah dan Gelar Budaya Lampung Sungkai Bungamayang beberapa waktu lalu.
Sesaat saya – yang saat acara tersebut bertindak sebagai MC menuliskan point besar dari banyaknya penjelasan ilmiah yang DR Sapta Nirwandar – yang kerap saya sebut Oom setiap bertemu beliau. Pada acara Adat yang di helat di Bandar Lampung pada Sabtu, 17 September lalu adalah bukan pertama kali saya bertemu dengan Oom Sapta. Pada beberapa kesempatan lawatan tugas saya ke Luar Negeri selalu bertemu dengan Oom Sapta. Karena memang Oom Sapta di tugaskan sebagai Dirjen Pemasaran Seni Budaya dan Pariwisata Indonesia jadi setiap ada event tingkat Nasional maupun Internasionl pasti akan bertemu beliau. Sama seperti ketika saya juga sempat bertemu dan bicara banyak ketika Festival Tong Tong di Denhaag dan Pertunjukkan Seni Budaya di Paris, Swiss dan Belgium pada pertengahan tahun 2009 lalu. Begitu pula ketika saya kembali bertemu beliau di ajang Korea World Travel Fair tahun 2008.
Kembali ke inti pembicaraan DR Sapta Nirwandar yang menarik buat saya bahas. Bahwa benar adanya. Pergeseran Teknologi di era modern, menuntut manusia sebagai pelaku usaha untuk lebih kreatif dalam menjalankan usaha yang di geluti. Sekarang zaman Facebook, email dan alat komunkasi yang tak lagi lazim seperti era 80 atau 90-an tentunya. Kini , masing masing dari individu telah memaknai hubungan silahturahmi hanya dengan berkirim kabar via email, chat, SMS, MMS atau BBm-an. Bahkan ucapan Hari Raya dan Undangan Pernikahan pun kerap di sampaikan hanya dengan SMS. Bicara praktis, sudah barang tentu, tapi segi hormat akan sebuah hubungan baik tentulah lain hal yang perlu di perhatikan kemudian.
Lalu saya kembali memaknai ucapan DR Sapta tersebut , sebagai upaya untuk memacu diri agar lebih kreatif lagi dari waktu ke waktu. Dan kreatifitas itu sebenarnya mahal harga nya. Sama hal nya dengan nilai seni yang memiliki nilai prespektif yang beda di setiap sudut pandang individu. Tapi permasalahan yang terjadi tak semua kegiatan kreatif yang kita lakukan bisa di apresiasi sebagai perbuatan kreatif. Contoh – apa yang pernah saya dan team lakukan dalam organisasi yang kami bina, rintis dan pertahankan bersama sama dalam sebuah perkumpulan yang bukan hanya sekedar perkumpulan. Bagi kami – Berkegiatan itu adalah ajang mengasah diri untuk jadi pribadi yang lebih baik lagi dan beda dengan remaja lainnya. Tapi bagi sebagian orang yang bisa jadi tak suka dengan kreatifitas yang kami lakukan menganggap bahwa kami memiliki upaya untuk mencari perhatian, upaya untuk mendongkrak popularitas , bahkan ada yang beranggapan bahwa saya dan teman teman menciptakan beragam kegiatan positive tersebut untuk mendongkrak agar saya cepat naik pangkat dan memiliki kedudukan yang lebih tinggi. Dan unik nya ketika kegiatan tersebut sukses mereka meng-klaim bahwa mereka punya andil. Tapi jika kegiatan kreatif kami gagal karena terkendala teknis , maka mereka yang berucap itu pun satu persatu hilang dan berkata tak tau menahu dengan apa yang kami lakukan. Sekilas bagai tak ada artinya dari apa yang terjadi. Tapi bagi saya dan team, peremehan kreatifitas – bisa kami bilang begitu, - adalah upaya pihak pihak yang tak suka dengan apa yang kami lakukan dan kemudian berhasil – di lain pihak - mereka yang berkata dan tidak suka tersebut hanya bisa sebatas berkata saja, mereka pun tak biaa berbuat apa apa dan bahkan tak pernah menghasilkan apa apa sebagai pembuktian dari cibiran mereka bahwa mereka bisa. Pernah pula – di lain kisah - saya dan team men-direct sebuah pertunjukan bakat teman teman dengan system Drama Musical, lantas banyak komentar dari beberapa pihak yang menganggap apa yang kami buat adalah hal biasa dan tak begitu baik. Lantas di sisi lain mereka tak bisa buat seperti apa yang kami buat. Jika mereka bisa mengatakan kami tak lebih baik, mengapa mereka tak buat sesuatu yang jauh lebih baik sebagai pembuktian dari celaan mereka tersebut ?. Belum lagi hal – hal sanggahan yang seolah olah tak pernah ada habisnya. Tapi bagi saya, hinaan dari apa yang terjadi adalah pembelajaran untuk menerapkan control sabar yang sebenarnya. Bahwa tak perlu saya berkomentar banyak tentang anggapan miring banyak pihak, tak perlu juga saya berkoar koar bahwa saya dan tim bisa, Saya hanya butuh waktu untuk membuktikan bahwa yang mereka bicarakan adalah hal yang sia sia karena saya dan tim bisa membuktikan dengan karya dan akan terus berkarya selama hayat di kandung badan.
Sunday, September 18, 2011
Saturday, July 30, 2011
SABAR KU TAK BERBATAS, BENARKAH ?
….Bersabarlah kau, Dan sesungguhnya Allah SWT akan bersama orang – orang yang Sabar.
Demikian kurang lebih penggalan kalimat yang kerap saya dengar ketika beragam pihak menghimbau untuk bersabar. Sama dengan ingatan saya pada almarhumah Mama yang selalu menganjurkan untuk bersabar dan terus bersabar akan segala apa yang belum tersampaikan dari beragam upaya yang di tunaikan ataupun bersabar terhadap beragam masalah yang hadir dalam tiap langkah kehidupan yang terbentang luas dan tak pernah ada batas pasti.
Seumpama dengan rangkaian kalimat bijak, begitu pula dengan segala yang kini terjadi. Saya masih ingat ketika remaja dulu, Saya – Seorang anak pertama dari enam bersaudara harus menahan diri dari godaan remaja seusia saya untuk membeli celana panjang cutbray yang sedang trend saat itu. Maklum, Saya tahu diri untuk itu. Mama adalah single parent dengan profesi Guru Sekolah Dasar pada sebuah Kelurahan kecil plus penjaja Beragam dagangan dan barang – barang kreditan yang terkadang harus menguras keringat sepulang mengajar hanya untuk menghidupi keenam anaknya. Dan karena dasar logis tersebutlah saya tak pernah berani untuk meminta sesuatu yang lebih yang bersifat konsumtif pada Mama. Apalagi hanya sekedar celana panjang bermodel cutbray. Dan saya pula cukup tahu diri akan posisi sebagai anak tertua. Ada lima saudara saya lainnya yang jauh lebih banyak membutuhkan biaya dari pada sekedar beli celana panjang cutbray baru. Tapi, berkat nilai sabar yang selalu di dengungkan oleh Mama, saya lama kelamaan bisa membeli celana cutbray baru dengan hasil hadiah uang tunai yang saya peroleh sebagai hadiah lomba menyanyi tingkat SMA kala itu. Meski karena ketidaksabaran jugalah yang akhirnya membuat celana cutbray impian saya tersebut robek pada pemakaian pertama dikarenakan pembelian barang palsu alias barang KW.
Begitulah kesabaran yang saya alami dan masih saya ingat sebagai kisah konyol ketika remaja dahulu. Dan makin beranjak dewasa, ada banyak kisah kesabaran yang saya alami dan banyak pula nilai kehidupan yang patut saya syukuri sebagai pembelajaran dari apa yang saya hadapi. Kesabaran untuk menanggapi beragam kritikan pedas, kesabaran untuk tidak terbawa pada pancingan emosi beberapa pihak yang candrung tak begitu sesuai fakta yang sebanarnya. Kesabaran untuk tidak meladeni ocehan dan cercaan aneh beberapa pihak yang memang berprofesi sebagai pengadu domba dan penyulut emosi tanpa pernah tahu masalah yang sebanarnya terjadi bahkan tak pernah ada karya nyata yang pasti selain hanya bisa berdandan dan tampil serasi dalam setiap acara bergengsi dengan sunggaran dan busana perlente karya rumah mode ternama meski semua itu memakai biaya orang tua yang juga masih bersusah payah menyokong penampilan superstar anak nya. Atau Kesabaran tingkat tinggi yang mengharuskan saya untuk terus menerus menahan emosi dari beragam sambaran emosional pihak pihak yang sensi dan sedikit banyak mencari arti dirinya sendiri yang lebih baik dari yang lain. Termasuk meladeni para petinggi petinggi yang merasa perlu di tinggikan meski sebenarnya tak perlu terancam ketinggian posisinya oleh diri yang tak seberapa ini. Plus kesabaran atas tuduhan bahwa Saya – Indra, menerima uang suap untuk sebuah kompetisi yang saya dan rekan rekan perjuangkan agar ‘bersih’ di banding kompetisi sejenis yang terkenal ‘kotor’ tapi berbalut ‘bersih’.
Saya. Indra – begitu Mama memanggil saya sejak kecil, sesuai dengan nama tengah saya. Adalah anak biasa, dari keluarga biasa, juga bukan orang berada. Mama dan Papa pun telah tiada. Tak ada pula keluarga yang berada, apalagi memiliki penyokong yang mampu memberikan benda benda ataupun segalanya pada saya. Tapi saya , Indra – punya kesabaran dan daya juang yang kuat untuk menahan kesabaran tersebut sampai tak lagi ada batas dan bahkan tak pernah berbatas (terkadang). Untuk hal – hal sepele terkadang saya tak pernah terlalu merisaukannya. Tapi tetap semua dalam pemikiran bahwa yang sepele bisa jadi tak sepele ketika kesabaran bukanlah hal yang utama. Entah dari mana saya mendapatkan ini. Entah siapa pula yang selalu menekan rem kesabaran pada kendaraan kehidupan saya, padahal Orang tua juga tak ada. Tapi bisa jadi karena arahan dan ‘hasutan’ baik almarhumah Mama lah yang membuat saya bisa menekan emosi ini jauh lebih dalam daripada harus menampakkannya di permukaan. Meski terkadang ada hal hal yang dapat dengan mudah saya tunjukkan. Misal, bahwa saya – Indra, adalah sosok yang mudah sekali terbawa arus sensi ketika mendengar lirik lagu yang sesuai dengan cerita hidup dan problema hati. Dan saya juga mudah sekali terhanyut oleh hal hal yang terkadang untuk ukuran pria lainnya itu biasa saja. Bahkan Saya , Indra – juga bisa dengan terang terangan menitikkan air mata ketika ada hal – hal yang dirasa memang perlu menitikkan air mata, dan itu sah sah saja sebenarnya. Tak ada yang salah. Karena almarhumah Mama pernah berkata tak ada yang salah dengan pria menangis, Karena menangis itu menunjukkan kepekaan selagi di sampaikan dengan porsi yang wajar. Dan lagi lagi Saya, Indra – juga harus mengatakan bahwa saat ini saya merindukan diri untuk jadi lebih sabar lagi. Sabar dengan cobaan yang makin hari makin kuat. Makin hari makin tak saya pahami akan sampai dimana semua ini bermuara. Dan semakin saya telusuri mengapa semuanya makin tak menjanjikan ujung yang menyenangkan. Harus bermanis meski sebanarnya pahit. Harus berkata ‘ya’ meski sebenarnya hati bilang ‘tidak’. Dan itulah Saya, Indra – yang lagi lagi harus berakrobat dengan beragam ketidaknyamanan yang terjadi dalam jalan hidup saya sendiri. Ada banyak hal yang tak jelas, entah hitam atau putih, dan bahkan banyak pihak yang dengan terang terangan mengumbar warna warna kusam dan cenderung abu abu kebiruan hingga memudarkan warna jingga yang sebenarnya.
Dan sampai di hari ini, Saya – Indra, masih terus berjuang men-Sabar-kan diri. Sabar dari segala hal – hal yang tak wajar. Sabar dari beragam anggapan miring beragam pihak yang kerap salah tafsir akan segala yang tertoreh dalam karya hidup saya.
Do’a kan Saya – Indra masih bisa terus bersabar hingga akhir waktu.
Demikian kurang lebih penggalan kalimat yang kerap saya dengar ketika beragam pihak menghimbau untuk bersabar. Sama dengan ingatan saya pada almarhumah Mama yang selalu menganjurkan untuk bersabar dan terus bersabar akan segala apa yang belum tersampaikan dari beragam upaya yang di tunaikan ataupun bersabar terhadap beragam masalah yang hadir dalam tiap langkah kehidupan yang terbentang luas dan tak pernah ada batas pasti.
Seumpama dengan rangkaian kalimat bijak, begitu pula dengan segala yang kini terjadi. Saya masih ingat ketika remaja dulu, Saya – Seorang anak pertama dari enam bersaudara harus menahan diri dari godaan remaja seusia saya untuk membeli celana panjang cutbray yang sedang trend saat itu. Maklum, Saya tahu diri untuk itu. Mama adalah single parent dengan profesi Guru Sekolah Dasar pada sebuah Kelurahan kecil plus penjaja Beragam dagangan dan barang – barang kreditan yang terkadang harus menguras keringat sepulang mengajar hanya untuk menghidupi keenam anaknya. Dan karena dasar logis tersebutlah saya tak pernah berani untuk meminta sesuatu yang lebih yang bersifat konsumtif pada Mama. Apalagi hanya sekedar celana panjang bermodel cutbray. Dan saya pula cukup tahu diri akan posisi sebagai anak tertua. Ada lima saudara saya lainnya yang jauh lebih banyak membutuhkan biaya dari pada sekedar beli celana panjang cutbray baru. Tapi, berkat nilai sabar yang selalu di dengungkan oleh Mama, saya lama kelamaan bisa membeli celana cutbray baru dengan hasil hadiah uang tunai yang saya peroleh sebagai hadiah lomba menyanyi tingkat SMA kala itu. Meski karena ketidaksabaran jugalah yang akhirnya membuat celana cutbray impian saya tersebut robek pada pemakaian pertama dikarenakan pembelian barang palsu alias barang KW.
Begitulah kesabaran yang saya alami dan masih saya ingat sebagai kisah konyol ketika remaja dahulu. Dan makin beranjak dewasa, ada banyak kisah kesabaran yang saya alami dan banyak pula nilai kehidupan yang patut saya syukuri sebagai pembelajaran dari apa yang saya hadapi. Kesabaran untuk menanggapi beragam kritikan pedas, kesabaran untuk tidak terbawa pada pancingan emosi beberapa pihak yang candrung tak begitu sesuai fakta yang sebanarnya. Kesabaran untuk tidak meladeni ocehan dan cercaan aneh beberapa pihak yang memang berprofesi sebagai pengadu domba dan penyulut emosi tanpa pernah tahu masalah yang sebanarnya terjadi bahkan tak pernah ada karya nyata yang pasti selain hanya bisa berdandan dan tampil serasi dalam setiap acara bergengsi dengan sunggaran dan busana perlente karya rumah mode ternama meski semua itu memakai biaya orang tua yang juga masih bersusah payah menyokong penampilan superstar anak nya. Atau Kesabaran tingkat tinggi yang mengharuskan saya untuk terus menerus menahan emosi dari beragam sambaran emosional pihak pihak yang sensi dan sedikit banyak mencari arti dirinya sendiri yang lebih baik dari yang lain. Termasuk meladeni para petinggi petinggi yang merasa perlu di tinggikan meski sebenarnya tak perlu terancam ketinggian posisinya oleh diri yang tak seberapa ini. Plus kesabaran atas tuduhan bahwa Saya – Indra, menerima uang suap untuk sebuah kompetisi yang saya dan rekan rekan perjuangkan agar ‘bersih’ di banding kompetisi sejenis yang terkenal ‘kotor’ tapi berbalut ‘bersih’.
Saya. Indra – begitu Mama memanggil saya sejak kecil, sesuai dengan nama tengah saya. Adalah anak biasa, dari keluarga biasa, juga bukan orang berada. Mama dan Papa pun telah tiada. Tak ada pula keluarga yang berada, apalagi memiliki penyokong yang mampu memberikan benda benda ataupun segalanya pada saya. Tapi saya , Indra – punya kesabaran dan daya juang yang kuat untuk menahan kesabaran tersebut sampai tak lagi ada batas dan bahkan tak pernah berbatas (terkadang). Untuk hal – hal sepele terkadang saya tak pernah terlalu merisaukannya. Tapi tetap semua dalam pemikiran bahwa yang sepele bisa jadi tak sepele ketika kesabaran bukanlah hal yang utama. Entah dari mana saya mendapatkan ini. Entah siapa pula yang selalu menekan rem kesabaran pada kendaraan kehidupan saya, padahal Orang tua juga tak ada. Tapi bisa jadi karena arahan dan ‘hasutan’ baik almarhumah Mama lah yang membuat saya bisa menekan emosi ini jauh lebih dalam daripada harus menampakkannya di permukaan. Meski terkadang ada hal hal yang dapat dengan mudah saya tunjukkan. Misal, bahwa saya – Indra, adalah sosok yang mudah sekali terbawa arus sensi ketika mendengar lirik lagu yang sesuai dengan cerita hidup dan problema hati. Dan saya juga mudah sekali terhanyut oleh hal hal yang terkadang untuk ukuran pria lainnya itu biasa saja. Bahkan Saya , Indra – juga bisa dengan terang terangan menitikkan air mata ketika ada hal – hal yang dirasa memang perlu menitikkan air mata, dan itu sah sah saja sebenarnya. Tak ada yang salah. Karena almarhumah Mama pernah berkata tak ada yang salah dengan pria menangis, Karena menangis itu menunjukkan kepekaan selagi di sampaikan dengan porsi yang wajar. Dan lagi lagi Saya, Indra – juga harus mengatakan bahwa saat ini saya merindukan diri untuk jadi lebih sabar lagi. Sabar dengan cobaan yang makin hari makin kuat. Makin hari makin tak saya pahami akan sampai dimana semua ini bermuara. Dan semakin saya telusuri mengapa semuanya makin tak menjanjikan ujung yang menyenangkan. Harus bermanis meski sebanarnya pahit. Harus berkata ‘ya’ meski sebenarnya hati bilang ‘tidak’. Dan itulah Saya, Indra – yang lagi lagi harus berakrobat dengan beragam ketidaknyamanan yang terjadi dalam jalan hidup saya sendiri. Ada banyak hal yang tak jelas, entah hitam atau putih, dan bahkan banyak pihak yang dengan terang terangan mengumbar warna warna kusam dan cenderung abu abu kebiruan hingga memudarkan warna jingga yang sebenarnya.
Dan sampai di hari ini, Saya – Indra, masih terus berjuang men-Sabar-kan diri. Sabar dari segala hal – hal yang tak wajar. Sabar dari beragam anggapan miring beragam pihak yang kerap salah tafsir akan segala yang tertoreh dalam karya hidup saya.
Do’a kan Saya – Indra masih bisa terus bersabar hingga akhir waktu.
Friday, April 8, 2011
MENARIK WARNA YANG HILANG.
Rutinitas terkadang menenggelamkan kita dalam banyak hal yang kemudian menjadikan kita pribadi yang lebih bisa menghargai waktu. Karena Rutinitas adalah berkenaan dengan disiplin terhadap beragam kegiatan yang di lakukan perjam nya. Apa jadinya jika manusia hidup di dunia ini tanpa turinitas. Pastilah tak begitu menarik untuk di simak. Pasti pula sangat membosankan karena penuh dengan waktu waktu luang dan tanpa kesan atau bahkan jauh dari hasil karya sebagai upaya mengisi hidup sebelum mati.
Dan inilah saya, yang beberapa bulan ini tenggelam dalam rutinitas tersebut. Kegiatan sebagai pekerja, yang menuntut melakukan banyak inovasi dan kreativitas dalam melaksanakan tugas kerja yang di bebankan pada saya. Lalu bertugas sebagai pekerja di dunia hiburan ; menghibur banyak pihak sebagai Pembandu Acara, menunaikan permintaan si empunya acara. Bernyanyi sebagai penghibur wajah wajah lesu seusai menunaikan tugas di lahan pekerjaan masaing masing, lalu menhibur para undangan yang datang ke resepsi perkawinan yang datang dengan beragam harapan dan tujuan atau hanya sekedar mencari cara numpang makan dan perbaikan gizi seminggu sekali.
Lalu dimana saya kini sebenarnya ? Dimana warna warna dalam lembaran aktivitas Hidup saya yang dulu ? Yang kini hilang, tergantikan ?
Pertanyaan itu yang kemudian terus membahana dalam benak.
Saya yang dulu punya banyak kesempatan belajar dari para senior dan juga rekan yang jauh lebih baik di banding saya. Saya Rindu. Rindu pada dunia menyanyi dan menghibur yang dulu pernah saya lakoni. Rindu pada tantangan membawakan request-an lagu para pengunjung cafĂ© atau restaurant atau pub dan club dimana saya berjulukan ‘Pria Penghibur’. Ada pula rindu yang terkadang tak bisa di gambarkan ketika lengan ini memegang microphone dan raga ini terkena sorotan lampu dan blits kamera membahana, belum gemuruh penonton tepuk riuh nun jauh di sana.
Semua rindu itu yang kemudian selalu memacu saya untuk terus belajar. Belajar, dan Belajar, yang meski saya tak tahu sampai kapan ?, tapi yang saya yakini bahwa pelajaran yang saya telah mulai sejak saya masih SMP ini bisa terus berkembang atau bahkan berguna bagi mereka yang menginginkannya dapat di terapkan pada banyak pribadi lainnya. Perkara kemudian benar atau salah itu tak masalah. Toh kebenaran hanya milik Allah – sang pencipta dan penguasa akan Langit, Bumi dan Isi – isi nya.
Dan meski Rindu itu ada, saya masih tetap menerapkan beragam ilmu yang telah saya miliki meski hanya sebatas bernyanyi ketika berkendara atau bernyanyi menghibur diri sendiri ketika butuh penghiburan. Dan segalanya makin berirama dengan kesibukan yang saya dapat kini, Menjadi Ayah dari tiga anak dan tetap berupaya menyenangkan istri, menjadi pekerja dengan beragam tugas yang di bebankan, menjadi bagian dari beberapa organisasi yang saya harap sealu akan memberi menfaat dan inspirasi dari banyak pihak yang lebih layak saya jadikan panutan di banding diri pribadi, Menjadi teman, sahabat dan orang orang dekat bagi mereka yang selalu tak pernah bosan memberi kebahagiaan dan berbagi suka dan duka.
Inilah hidup.
Turun Naiknya gelombang sangatlah bisa menjadikan Pribadi ini lebih baik lagi . Dan segalanya saya Syukuri. Sangat Saya Syukuri. Termasuk mengapa diri ini menjadi begini. Kini
Subscribe to:
Posts (Atom)